Selamat Tahun Baru 2019

Selamat Tahun Baru 2019

Manusia berusaha menguasai waktu. Oleh manusia dibuatnya menjadi diskrit. Ada milenium, ada tahun ada hari dan seterusnya. Manusia menggunakannya untuk menyusun agenda kerja hari ini, merancang masa depan dan menandai sejarah waktu lalunya.

Benarkah manusia menguasai waktu? Banyak pemikir menyatakan tidak, alih-alih manusia malah dikuasai waktu. Manusia dengan logika merasa menguasai waktu baik dalam ilmu pengetahuan maupun untuk kepentingan matetialisme dan pragmatisme. Laba tahun ini meningkat dibandingkan tahun lalu, begitu kaum corporate mengukur dirinya. Organisasi kita ranking nya meningkat pesat ditahun ini, begitu berbagai Perguruan Tinggi mengukur dirinya. Bahkan negara harus memposisikan dengan berbagai peringkat yang dibuat didunia. Dan akhirnya manusia dijerat tidak keluar, bertarung dengan sesama manusia untuk memenangkan semua bentuk persaingan diatas. Sekaligus mendapatkan dirinya predikat unggul atau pemenang dari saingannya.

Begitu pula dengan kata sakti yang disebut “resolusi”, perencanaan dan target yang harus disusun dan ditetapkan untuk tahun depan. Bahkan logika ilmu strategik harus bisa merancang jangka panjang untuk sustainability dan eksistensi sebuah organisasi.

Waktu sering dikaitkan dengan ruang. Karena dimensi indra manusia hidup dalam ruang, sedihnya sebenarnya hanya ruang tiga dimensi dan waktunya sendiri sebatas rata2 life expectations usia manusia hari ini.

Waktu dan ruang kontinum, kata Aristoteles. Waktu dan ruang bersifat mutlak kata Newton dan dinegasikan oleh Einstein yang mengatakan waktu dan ruang bersifat relatif. Ketiganya mungkin mudah dipahami di ranah ilmu Fisika. Sulit saya memahami atau menariknya dalam ranah psikologi manusia.

Semua spekulasi diatas pada hakekatnya seperti sebuah paradox eksistensi manusia di semesta ini. Keterbatasan waktu dan debu semesta dan kesombongan logikanya. Sementara Sang Maha Pemilik Ruang dan Waktu masih membuatnya misteri bagi manusia.

Tetapi dalam gegap merayakan hari pertama tahun baru 2019. Saya ingin membawa pikiran saya dalam waku spritual. Dari berbagai asumsi tentang manusia, salah satunya mengatakan manusia adalah makhluk spiritual dan etikal. Di fakultas inilah tempat manusia bertanya eksistensial dan makna dan tujuan hidupnya serta hidup seperti apakah yang layak dijalani.

Dari mana kita berasal dan akan kemana kita berakhir? Kebaikan dan nilai apa yang harus diperjuangkan untuk dijalani secara pribadi atau sosial?

Disamping kapasitas spiritual dan etikalnya, maka logikanya membantu manusia mencari jawab semua pertanyaan diatas. Dari jaman ke jaman. Dari Socrates sampai Magnis Suseno hari ini. He he he

Sambil masih di hari pertama tahun 2019. Saya ingin berhenti sejenak untuk tidak memikirkan berapa jauh saya akan berlari di tahun 2019. Saya mungkin harus menyempatkan menjawab pertanyaan sederhana saja. Kebaikan apa yang harus saya kerjakan sendiri atau bersama-sama sahabats?

Mungkin tidak harus sambil berlari lagi. He he he

Salam hormat

1 Januari 2019
Gatot Sudariyono

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *