Berlari GWK ke GBK : catatan hari ke – 27

Berlari GWK ke GBK
untuk Kampanye Anti Narkoba

Catatan hari ke duapuluhtujuh
Kamis, 27 Desember 2018

Sahabats yang budiman,

Kampus ITB Bandung – Bundaran Cianjur

Jam 06:30 sudah hadir Bapak Rektor ITB, Prof Kadarsyah dan jajarannya dan Rektor Ujani, Prof Bambang Sutjiarmo, Bapak Kepala BNN Prov Jawa Barat dan jajarannya di gerbang pintu masuk Kampus ITB. Dan ditambah puluhan runner dari kalangan dosen ITB dan komunitas gowes lintas angkatan ITB. Dan catatan ini akan penuh nama Profesor dan Doktor, kalau saya terus menyebutkan semua yang hadir tadi pagi.

Kemeriahan yang mendadak terjadi untuk melepas kami berlari menuju Jakarta, sangat mengharukan saya. Saya pribadi awalnya tidak berani membayangkan akan dilepas Rektor ITB. Karenanya dari start di Bali belum mengajukan permohonan kepada beliau. Takut saya tidak sanggup sampai di Bandung. Tetapi saat kami sdh sampai Cirebon, saya lebih percaya diri untuk menyampaikan permohonan dilepas beliau pagi ini. Dan beliau berkenan. Bangga benar rasa hati kami. Untuk acara pagi ini, saya berhutang kepada rekan saya Bang Mahdi dan mbak Mindri.

Dan yang tidak kalah penting, saya mempunyai kesempatan untuk memperkenalkan Kepala BNN Prov Jabar dengan Rektor ITB. Seperti halnya saat kami dilepas Profesor Joni Hermana, Rektor ITS di Surabaya. Saya juga memperkenalkan Ibu Kepala BNN Kota Surabaya kepada beliau. Tetapi bisa jadi itu ge-er saya. Jangan2 mereka sudah berkenalan di kesempatan yang lain. He he he

Dalam sambutannya, Kepala BNN menyampaikan statistik yang sangat membuat miris. Ada 40 persen generasi muda mempunyai potensi terpapar narkoba. Dari 40 persen itu 10 persen sdh sangat tergantung dan cenderung tidak bisa diselamatkan. 20 persen masih bisa direhab. Sedang 70 persen adalah yang ingin mencoba-coba narkoba untuk pertama kali. Bagian terbesar inilah yang harus dicegah.

Bapak Rektor ITB dalam sambutannya mengatakan pada tahun 2035 setengah negara2 didunia akan kekurangan secara significant populasi anak mudanya. Dan itu akan membuat produktivitas ekonominya terancam. Sedang negara Indonesia tidak termasuk, dan malah menikmati bonus demografi karena masih banyak penduduknya yang berusia muda. Hanya saja dibutuhkan skenario untuk mencegah dan melindungi mereka dari narkoba. Dengan demikian skenario pencegahan narkoba harus dibayangkan sangat berdimensi jauh hingga ke tahun 2035.

Bendera Start dikibarkan Bapak Rektor dan Bapak Kepala BNN Prov Jabar jam 07:200. Tentu saja sebelumnya diselenggarakan foto bersama dari semua yang hadir dan bersifat wajib . . Ha ha ha

Kami diiringi dua-puluhan runner dan sepuluh goweser sampai Kota Baru Parahyangan.

Selanjutnya kami menempuh lintasan ke Cianjur dengan tambahan dua pelari, yaitu Mas Icak, (dosen Teknik Industri ITB) dan Kang Puad dari Bogor runner yang akan menyertai kami sampai besok ke Bogor.

Perlarian dan route ke Cianjur dan Insya Allah nanti melewati Cipanas, Puncak Pass, Bogor, Cibinong, Pasar Rabu dan Cawang, adalah route ITB Ultramarathon 170K dalam versi dibalik. Sudah ribuan pelari alumni ITB menyelesaikan route dari Jakarta ke Bandung sejak ITB UM diselenggarakan tahun 2017. Jadi saya tidak akan banyak menceritakan perlarian di lintasan ini. Lintasan berlari ini pada dasarnya sudah seperti rumah sendiri. He he he

Saya “ditarik” berlari kencang oleh Mas Icak sejak Padalarang. Dan tiba di bundaran Cianjur jam 18:00. Semoga malam ini kaki saya bisa recovery untuk besok dipakai (berjalan) menanjak ke Pucak Pass. He he he

Jam 20:00 kami berpisah dengan Mas Icak setelah selesai makan malam. Dan dia harus kembali ke Bandung.

Dengan acara pelepasan tadi pagi yang membanggakan, sampai diantar ke Kota Parahyangan, saya menyampaikan terima kasih kepada semua pihak atas kelancaran semua perlarian hari ini.

Salam hormat.

Gatot Sudariyono

Penginapan By Diel, Cianjur
Kamis, 27 Desember 2018.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *