Berlari GWK ke GBK : Catatan hari ke-17

*Berlari GWK ke GBK* untuk
Kampanye Anti Narkoba

Catatan hari ke tujuh belas
Senin, 17 Desember 2018

Sahabats yang budiman,

*Balaikota Solo – Candi Prambanan – Kantor Dinas Sosial Provinsi DIY*

Kembali lagi pagi ini kami berkumpul di Balaikota Surakarta jam 04:45. Kepala BNN Surakarta sdh bersiap pagi ini. Teman2 relawan BNN juga sdh bersiap disana. Mas Nurjaman, sahabat pelari kami dari Solo, menyatakan akan ikut berlari sampai Jogya.Dia spesial cuti hari ini untuk bergabung bersama kami.

Setelah dikibarkan bendera start jam 05:00, masing2 kami melesat berlari. Saya berlari paling belakang bersama para relawan BNN dan Mas Akbar dari Alumni ITB 82 yg berdomisili di Solo. Selama dua jam berlari dan sesudahnya kami berpisah.

Berlari kearah Jogya cukup sejuk, walaupun lalu lintas cukup ramai. Jalanan empat jalur menuju Kota Klaten dan terus sampai Prambanan.

Tampaknya 5 kawan pelari (Mas Amin, Mak Del, Mas Cokro, Mas Nurjaman, dan Bayu – pelari muda yang dititipkan dari Kediri) terus melaju tanpa istirahat dan finish di depan Candi Prambanan lebih awal dari dugaan saya. Jam 13:00 sdh tiba disana. Kami mendapat pengawalan dari PJR Polres Klaten. Dan lagi2 saya tertinggal satu jam dibelakang. He he he

Di depan kawasan Candi Prambanan kami sudah disambut staf BNN Provinsi DIY. Kami memutuskan makan siang dan finish disini serta menuju ke hotel terlebih dahulu.

Jam 16:00, kami hadir di acara yang diselenggarakan oleh Kepala Kantor Dinas Sosial DIY dihadiri Kepala BNN Prov DIY dan Direktur Rehab Napza Kemensos RI.

Bapak Kusumo, Direktur Rehab Napza, ini juga yang melepas kami di GWK Bali. Betapa antusias kami bertemu lagi dan sepertinya melihat saya cukup detail untuk memastikan apakah saya masih cukup kuat untuk melanjutkan ke Jakarta. Ha ha ha . .

Acara dihadiri seratus-an relawan IPWL dan Pekerja Sosial DIY, dihibur oleh Kelompok Pemusik King Cobra berlangsung meriah.

Disampaikan dalam sambutannya Kepala BNN situasi perang terhadap Narkoba di DIY. Didalam survey tahunannya, narkoba yang dua tahun lalu masih menyasar kelompok pekerja swasta dan juga pegawai negeri, hari ini rupanya sudah marak menyasar pelajar dan mahasiswa. Kampanye pencegahan serta upaya memutus rantai peredaran menjadi prioritas utamanya. Yang paling banyak dan tentu saja paling berbahaya adalah yang pertama kali mencoba-coba.

Tetapi optimisme terpancar dari ketiga pimpinan diatas karena mengetahui benar situasi Jogyakarta dan upaya pencegahannya.

Selesai juga berlari hari ke-tujuh belas kami berlari dengan selamat.

Terima kasih kepada semua pihak atas kelancaran semua acara hari ini.

Salam hormat.

*Gatot Sudariyono*

Amaris Jogyakarta

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *