Berlari GWK ke GBK : catatan hari ke-10

Berlari GWK ke GBK untuk
Kampanye Anti Narkoba

Catatan hari ke sepuluh
Senin, 10 Desember 2018.

Sahabats yang budiman.

Alun-Alun Mojokerto – Makam Gus Dur – Alun Alun Pare

Pagi itu di alun alun kota Mojokerto, telah menunggu Ibu AKBK Harsi, Kepala BNN Kota Mojokerto dan stafnya serta 10 orang sahabats Mojopahit Runners. Mereka rupanya mau menemani kami berlari selama dua jam. Didepan sudah siap mengantar satu mobil PJR. Dan dibelakang beberapa mobil BNN beserta mobil birunya. Begitu bendera start dikibarkan kami langsung beramai-ramai berlari kearah Jombang. Pemandangan yang waooo sekali.

Jam 07:00 tepat kami berpisah di luar kota Mojokerto. Tidak ada kata lain kecuali terima kasih dan kenangan indah dari perkenalan yang singkat sejak finish kemarin sore dan diantarkan berlari pagi ini.

Secepatnya pagi itu kami berlari ke arah daerah makam Gus Dur. Jam 11:00 kami tiba disana. Dengan menggunakan kain sarung kami menuju kompleks makam. Siang itu banyak penziarah juga selain kami. Sedang dari masuk kota Jombang beberapa baliho besar dipasang yang menginformasikan ada acara besar tanggal 14-16 Desember berkaitan haul Gus Dur. Sayang kami cuma lebih awal seminggu.

Di nisan Gus Dur tertulis “Di sini berbaring seorang pejuang kemanusiaan”.

Dan saya meyakini perang terhadap narkoba serta rehab korbannya adalah pekerjaan kemanusiaan yang luar biasa berat dan besar skalanya yang harus dilakukan semua pihak. Andai Gus Dur masih hidup saya yakin akan almarhum akan marah dan geram dengan produsen dan jaringan pengedarnya yang anti kemanusiaan.

Di kompleks makam rupanya kami disusul oleh tiga orang Jombang Runners, yang sengaja ingin bisa bertemu.

Dari makam kita lanjutkan ke rumah makan didekatnya untuk berdiskusi tentang perlarian dan komunitasnya di Jombang. Sayang sekali makan siang itu harus kami lakukan di dekat makam Gus Dur. Padahal jam 09:00, saya melintasi Warung Makan milik Tokoh Besar asal Jombang yaitu almarhum Asmuni. Disini saya hanya sempat befoto saja.

Generasi saya mengenang beberapa tokoh besar dari Jombang selain alm Gus Dur yaitu alm Nurcholis Madjid dan alm Asmuni.

Dari makam Gus Dur kami melanjutkan perlarian ke alun-alun Kecamatan Pare. Diperbatasan Jombang Kediri, kami sudah disambut oleh BNN Kabupaten Kediri dan bersama-sama berlari menuju alun-alun Pare dilanjutkan ke Pendopo Kecamatan Pare.

Sambutan di Pendopo Kecamatan Pare, Kediri

Di Pendopo rupanya sudah menunggu 100 pelajar SMA dan SMK di Pare, 10 rekan mahasiwa/i dan 10 orang dari komunitas lari, Ibu AKBP Dewi, Kepala BNN Kab Kediri, Ibu Camat Pare, perwakilan dari Polres dan Koramil Pare.

Waooooo sekali. .

Serasa selebritis ditunggu fansnya. Hilang seluruh lelah dan panas hari ini. Ibu Dewi dan Ibu Camat rupanya sudah bekerja keras menyelenggarakannya.

Mike segera diserahkan saya mewakili pelari. Saya diminta bercerita ide berlari GWK ke GBK untuk kampanye berantas narkoba.

Sahabats, saya harus akhiri ceritanya disini. Karena kalau saya sdh diberi mike, maka saya bisa panjang lebar ceritanya dan senyap audience mendengarnya. Ha ha ha

Terima kasih Ibu Dewi dan Ibu Camat dan seluruh siswa/i serta mahasiwa/i yang hadir di Pendopo. Masing2 perwakilan mereka menyampaikan no WA-nya. Dan tiba2 saya mempunyai ratusan calon pemirsa untuk berlari 20 hari berlari berikutnya. Terima kasih social media.

Selesai juga berlari hari ke-sepuluh kami berlari dengan selamat.

Terima kasih.

Salam hormat.

Gatot Sudariyono

Penginapan Surya, Pare
Senin, 10 Desember 2018.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *