Berlari GWK ke GBK: Catatan Hari Ke-4

Catatan hari ke empat
Selasa, 4 Desember 2018.

Sahabat yang budiman.

Ketapang – Pusat Latihan Tempur Asem Bagus

Memulai lari pagi ini di Pelabuhan Ketapang dengan sedikit pengalaman ganjil. Kami yang 3 hari terbiasa dengan waktu di Bali. sekarang sdh di Pulau Jawa dimana waktunya maju satu jam. Kami sepakat akan berlari jam 05:00 seperti 3 hari di Bali. Dan ternyata saat itu di Ketapang sdh terang benderang. He he he

Kami berlari berempat, Mas Wildan (22) pelari ultra dari Banyuwangi akan turut berlari untuk etape ini saja.

Sesampainya di Watu Dodol, sahabat saya Dr Taufik Hidayat (Direktur RSUD Banyuwangi) menyusul. Untuk itu dilakukan lagi prosesi mengibarkan bendera start yang dikibarkan oleh Dr Taufik. Mirip seperti kemarin di Desa Budheng oleh Bapak Kades.

Dr Taufik Hidayat buat saya adalah salah satu mutiara Banyuwangi. Saya menghabiskan 3 jam, tadi malam ngobrol. Dan saya ijin menilai, kira2 kalau lemari baju saya penuh oleh aneka baju lama, maka lemari bajunya dr Taufik penuh diisi aneka piagam pengakuan prestasi ybs sebagai Direktur sebuah Rumah Sakit Umum milik Kabupaten Banyuwangi. Perlu satu tulisan tersendiri untuk menerangkan semua pencapaiannya.

Sungguh kebanggaan dan keharuan sendiri pagi itu kami dilepas berlari oleh dr Taufik.

Selepas Watu Dodol hari mulai panas terik. Dua puluh enam km kami berlari dengan langit biru pekat seperti warna air Selat Bali. Saya belum pernah memperhatikan saat langit siang tanpa ada sepotong awanpun. Artinya di langit hanya ada matahari sendirian.

Karenanya, sebentar2 saya harus buka sepatu dan kaos kaki karena telapak sdh mulai panas. Ini saya lakukan supaya tidak ada bahgian kaki dan telapak yang melepuh. Sementara satu bongkah es yang saya beli diwarung, saya letakan di tengkuk dan dengan cepat menguap. Paling tidak ini mencegah dari Heat Strock. Sungguh udara Banyuwangi yang terik dan panas.

Memasuki perbatasan Kabupaten Situbondo, kami berlari melewati hutan jati Taman Nasional Baluran. Di kanan kiri pohon jati tinggi dan sdh mulai berdaun lagi. Sebenarnya jika berada disana, kita akan merasakan keindahan pemandangan dan kekaguman akan luasnya sebuah taman Nasional. Tetapi lintasan yang hanya ada mobil, bus dan truck ngebut, tanpa ada penduduk, jalan menanjak terus menerus sepanjang 16km dan udara sangat panas sekali, saran saya, ini lintasan memang sangat “enak” untuk dipakai latihan berlari. He he he

Dengan kondisi medan seperti diatas, kami berempat berlari tercecer. Mas Cokro dan Wildan bisa “nyaman” dan melesat satu jam didepan saya dan Mak Del. Kelihatan usia kami yang menjadi sebabnya.

Dan akhirnya jam 16:30 saya tiba juga di Pustlatpur.

Sosialisasi Pencegahan Narkoba oleh BNN di Puslatpur

Sore itu di aula terbuka Puslatpur sdh terkumpul 100 warga desa binaan disekitar Puslatpur. Mereka diundang oleh Puslatpur untuk mendapat sosialisasi tentang bahaya Narkoba dan pencegahannya. Tiga staf BNN Kabupaten Lumajang memberi presentasi. Pada saat saya tiba disana sedang berlangsung tanya jawab. Saya menyaksikan pertanyaan yang antusias dari peserta kepada BNN. Sesudahnya saya diminta untuk juga menyampaikan cerita Kampanye Berlari Anti Narkoba yang lamanya sebulan. Saya masih menggunakan pakaian “dinas” pelari jauh saat bercerita tentang Kampanye dan Berlari. Dan alkisah mereka ingin sekali mendapat juga cerita harian saya kedepan. Satu peserta menyampaikan no WA nya untuk mewakili menerima cerita dan foto berlari kami.

Sungguh kerja sama yang membanggakan antara pihak BNN Kabupaten Lumajang dan Puslatpur yang mengundang penduduk untuk bersama-sama memahami bahaya Narkoba.

Menjelang maghrib, selesai sudah rangkaian penjelasan dari BNN, dan selesai juga berlari hari ke-empat dengan selamat.

 

Terima kasih.

Salam hormat.

 

Gatot Sudariyono

 

Perjalanan menuju penginapan di Situbondo

Selasa, 4 Desember 2018.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *