Berlari GWK ke GBK: Catatan Hari Ke-2

Catatan Hari Kedua Minggu, 2 Desember 2018.

Denpasar moon, shining on an empty street
I returned to the place we used to meet
Denpasar moon, shine your light and let me see
That my love is still waiting there for me

( Denpasar Moon – Maribeth)

Lagu diatas yang paling cepat mengingatkan saya pada Kota Denpasar. Walaupun saat ini di Denpasar belum lagi saatnya bulan purnama. Tadi pagi kami jam 05:00 meninggalkan Denpasar untuk start lari hari kedua di titik Finish kemarin sore di Tabanan.

Di tempat start sdh menunggu Mas Udayana, sahabats saya saat kuliah di Jurusan Mesin ITB dulu. Saat ini sdh pensiun dan memutiskan kembali ke Tabanan Bali. Jam 06:30 dengan bendera Start dikibarkan Mas Udayana, dan kami bertiga berlari kearah Negara. Senang hati saya atas kesempatan bertemu sahabats lama dalam suasana yang diluar dugaan kami berdua.

Dua jam pertama saya hanya bisa berjalan cepat. Sisa pegal semalam belum hilang benar. He he he.

Setelahnya saya mulai bisa kecepatan jogging. Matahari berubah terik sekali. Membuat lari kembali melambat.

Di tengah jalan kami bertemu dengan rombongan Kang Hendra Wijaya yang sdh berlari dari sejak tanggal 18 November lalu dari Bogor menuju Lombok. Saya kebetulan hadir saat Kang Hendra start didepan Balai Kota Bogor. Tema lari Kang Hendra berkaitan dengan bencana alam di Lombok dan Palu yaitu Run to Rebuild Hope. Rombongan lari Kang Hendra luar biasa dahsyat. Didepan sekali satu mobil PJR. Dibelakangnya Kang Hendra dengan sekitar 20 orang dari komunitas pelari dan 20 orang dari polisi bersama-sama berlari. Baru dibelakangnya beberapa mobil support Kang Hendra. Benar2 rombongan yang luar biasa.

Menuju Negara walaupun menyusuri pantai ternyata tidak berarti lintasannya landai. Yang ada justru turun naik dan kadang2 meliuk. Hadiahnya adalah pemandangan laut Selat Bali yang terlihat dari sejak Pantai Soka hingga Pantai Sembilih. Bahkan saya sempat istirahat makan siang dan tertidur di balai2 milik restaurannya. Dari jauh terlihat ombak bergulung panjang. Angin pantai yang semilir dingin mempermudah lelap.

Menyusuri lintasan ke Negara sesudahnya di warnai pemandangan sawah berundak di sebelah kanan. Sekaligus lintasan yang turun naik lagi. Tetapi mendung sejak jam 14:00 membuat saya berlari agak cepat lagi.

Lalu lintas nya sangat ramai dengan bis dan truck yang menuju Gilimanuk yang rata2 bekecepatan tinggi. Menjadikan berlari dibagian aspal di kiri jalan bisa berbahaya. Seringnya saya harus berlari dibagian tanah jika mendengar dari belakang suara truck atau bis mendekat. Menjadi pelari jauh sepertinya harus tahu berbagai suara mobil besar dan hukum Dopler juga. He he he

Akhirnya jam 17:00, kami memutuskan finish di depan Pasar Yehembang di Kecamatan Mendoya dan berjarak masih 15 km dari Negara.

Selesai sudah kami berlari hari kedua dengan selamat.

Terima kasih.
Salam hormat.

Gatot Sudariyono
Negara, 2 Desember 2018.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *